Adanya Batam Logistic Ecosystem, Sri Mulyani Sampaikan Efisiensi Waktu Perizinan Usaha Dan Konsumsi Di Batam Menjadi 30 Menit

Batam, (24/09/2020). Sri Mulyani dalam paparannya pada Konferensi Pers Bersama Ekosistem Logistik Nasional menyampaikan bahwa dengan adanya Batam Logistic Ecosystem (BLE), perizinan usaha dan konsumsi di Batam membutuhkan waktu validasi yang tadinya satu hari, ditargerkan menjadi 30 menit.

“Untuk perizinan dan konsumsi ini akan diintegrasikan sistem perizinan dan potong kuota antara CEISA FTZ milik Bea Cukai dan IBOOS milik BP Batam. Selama ini belum terintegrasi dan waktu validasinya satu hari, ditargetkan menjadi single submission dengan waktu validasi 30 menit, ini artinya secara persentase efisiensi waktunya mencapai 94% dengan estimasi dalam satu hari kerja selama 8 jam,” kata Sri Mulyani melalui siaran daring, Kamis (24/09/2020).

Sri menambahkan bahwa hal tersebut bisa terealisasi dengan adanya kebersamaan dan kolaborasi antar kementerian dan lembaga terkait, juga tak lupa sinergi dan dukungan dari para pelaku usaha dan bisnis.

“Dengan adanya kebersamaan dan kolaborasi ini, kami dari Pemerintah (sinergi K/L) di bawah koordinasi Kemenko Ekonomi dan Kemenko Manves, akan terus lakukan penguatan dan evaluasi, juga dengan pelaku usaha dan bisnis akan kolaborasi dan sinergi, sehingga kita bisa membangun sistem logsitik yang baik,” tambah Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengharapkan bahwa dengan adanya penataan logistik nasional ini akan menjadikan Indonesia memiliki daya saing yang baik untuk berkompetisi dengan negara tetangga.

“Kita akan evaluasi dan kita sepakati timeplan, saya berterima kasih kepada K/L dan para pelaku usaha yang sudah masuk ke sistem ini, supaya kita bisa berkomitmen untuk menjadikan kita bersama-sama membangun daya kompetisi yang lebih baik,” pungkas Sri Mulyani.

Sebagai sebuah ekosistem, BLE sebagai bagian dari Ekosistem Logistik Nasional memerlukan partisipasi aktif semua entitas terkait logistik baik di lingkungan Pemerintah maupun para pelaku usaha untuk tumbuh dan berkembang bersama. Kesediaan setiap pihak untuk “mengorbankan” kepentingan sektoral sangat dibutuhkan demi tercapainya efisiensi logistik.