Kawal Penataan Logistik di Kawasan Bebas Batam: Ini Strategi Bea Cukai Batam sebagai Inisiator BLE

Menjadi inisiator dalam pengembangan dan penerapan Batam Logistic Ecosystem (BLE), Bea Cukai Batam terus jalankan strategi-strategi guna suksesnya penataan logistik di Kota Batam. Setalah berhasil mematangkan digital platform BLE, langkah selanjutnya yang yang ditempuh oleh Bea Cukai Batam adalah mengadakan kegiatan piloting bagi para penyedia platform dan perusahaan volunteer pada Kamis, (25/2).

Perusahaan yang diundang dalam kegiatan ini terdiri dari enam perusahaan agen pengangkut, empat cargo owner, dan lima pengusaha pengurusan jasa kepabeanan (PPJK). Tak hanya mengundang perusahaan pengguna digital platform BLE, Bea Cukai Batam juga menghadirkan para penyedia platform seperti vessel platform, trucking platform, warehouse platform, dan payment platform.

Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe B Batam, Sulisa Brata menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah nyata Bea Cukai Batam dalam proses penerapan BLE. Tak hanya itu, Bea Cukai Batam juga berkomitmen akan selalu mengakomodasi kebutuhan para pengguna jasa yang berkaitan dengan BLE.

“BLE sudah diinisasikan oleh Bea Cukai Batam sejak Januari tahun 2020 lalu, berbagai analisa dan pendalaman telah dilakukan oleh Tim BLE yang juga berkoordinasi dengan Tim NLE untuk berjalannya platform BLE ini. Kami juga telah mempresentasikan BLE ke Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi,” – ungkap Susila.

Kegiatan piloting juga melibatkan Tim National Logistic Ecosystem (NLE) dari Kantor Pusat Direktorat Bea dan Cukai. Beberapa narasumber dihadirkan untuk memberikan pemaparan materi dihadapan para pengusaha dan penyedia platform. Hal ini menjadi bukti bahwa Bea Cukai Batam serius dalam proses pengembangan dan penerapan BLE.

“Saya rasa kegiatan seperti ini perlu sering diadakan, sehingga kami bisa lebih sering berinteraksi terkait penerapan BLE, karena sejauh ini kami hanya memantau BLE dari sosial media saja, belum pernah dilibatkan langsung. Kami merasa bangga bisa diundang dan menjadi bagian dari pengembangan BLE. Semoga sukses untuk Bea Cukai Batam,” tanggapan Sofian salah satu peserta kegiatan piloting.

Penerapan BLE akan meringkas dan mempercepat proses bisnis yang sebelumnya bersifat manual menjadi otomatis. Dengan berubahnya proses bisnis menjadi otomasi yang diatur oleh sistem tentu saja akan meningkatkan efisiensi biaya dan waktu yang diperlukan.

Layanan ship to ship/ floating storage unit yang sebelumnya dilakukan secara manual membutuhkan waktu pengurusan selama tiga hari, namun setelah adanya BLE pengurusan hanya membutuhkan waktu satu hari. Tak hanya itu, proses perizinan usaha yang semula membutuhkan waktu validasi selama satu hari bisa dipercepat menjadi 30 menit.

“Saat ini NLE maupun BLE sangat dibutuhkan dalam penataan logistik di Indonesia. Seiring dengan perkembangan zaman, terutama di era indusrti 4.0 penataan logistik juga harus dikembangkan. Kita harus lebih modern agar bisa bersaing dengan negara lain,” pungkas Puji Suharso, anggota Tim NLE.

Ketua Tim BLE, P. Dwi Jogyastara juga mengatakan dengan diterapkannya BLE, semua transaksi logistik sampai dengan proses pembayarannya dapat diselesaikan hanya dalam satu tempat dan satu waktu. Bea Cukai Batam akan terus mengakomodir perjalanan pengembangan dan penerapan BLE hingga suksesnya penataan logistik di era industri 4.0.