+62 778 - 429 446 Info.bcbatam@customs.go.id
MENKO LUHUT: Cost Efisiensi dari Batam Logistic Ecosystem (BLE) capai 1,5 T

MENKO LUHUT: Cost Efisiensi dari Batam Logistic Ecosystem (BLE) capai 1,5 T

Batam (25/09) – Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi RI, Luhut Binsar Panjaitan, menyampaikan 3 (tiga) catatan kecil selama menangani National Logistics Ecosystem (NLE) ini pada konferensi pers bersama Ekosistem Logistik Nasional secara daring, Kamis (24/09).

Catatan pertama yang disampaikan Luhut adalah cost efisiensi dari NLE yang cukup besar sebesar Rp 1,5 triliun (hanya dari daerah Batam). Dengan adanya NLE ini, transaksi dapat dilakukan hanya dengan satu layanan saja dari 17 transasksi layanan yang harus dilalui para eksportir dan importir.

“saya kira ini merupakan suatu langkah yang sangat spektakular. Setelah NLE ini jadi, langkah kedua adalah langkah yang paling penting yaitu bagaimana eksekusinya. Dan saya harap agar semua pemangku kepentingan dari Direktorat Jenderal Bea Cukai, Pelindo II dan semua pihak-pihak yang terlibat harus duduk bersama,” ujar Luhut.

Luhut juga menambahkan bahwa hal ini diharapkan bukan hanya omongan di kertas saja melainkan perlu pengawasan untuk lebih lanjut. Selanjutnya, Luhut juga menyampaikan rencana pemerintah yaitu menjadikan Pelabuhan Batu Ampar menjadi Green Port pertama di Indonesia, agar bisa sejajar dengan Singapura.

Terakhir, Luhut juga ingin agar permasalahan TKBM (Tenaga Kinerja Bongkar Muat) harus dituntaskan, dan dikelola menjadi lebih modern.

Luhut menyampaikan bahwa hal yang paling penting adalah segera mengeksekusi dan dilakukan pengawasan terkait NLE ini. Selain mengefisiensi biaya dan proses logistik, penerapan BLE ini  akan mendorong investasi di Indonesia dan akan memberikan dampak yang baik untuk penerimaan negara.

“Batam sendiri akan berdampak pada investasi kira-kira sebesar Rp 5 triliun dan juga akan kita dibenahi seluruh perkapalan di Batam dan Bintan untuk mendorong investasi serta nantinya akan dilakukan tank cleaning di lego jangkar agar kebersihan lingkungan laut kita jadi terkendali,” ucap Luhut.

Efektifitas Fasilitas Free Trade Zone Di Pulau Batam Capai 109.97%

Efektifitas Fasilitas Free Trade Zone Di Pulau Batam Capai 109.97%

Batam (17/09) – Rata-rata persentase efektifitas fasilitas Free Trade Zone (FTZ) di pulau Batam sampai pada bulan Agustus mencapai 109.97%. Angka tersebut merupakan hasil dari perbandingan devisa ekspor barang hasil produksi dengan nilai impor CIF (Cost, Insurance, and Freight) barang atau bahan produksi.

“Berdasarkan data-data pemasukan dan pengeluaran barang ke dan/atau dari Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas Batam didapati jumlah devisa ekspor barang hasil produksi sampai Bulan Agustus sekitar Rp 22.2 trilyun sedangkan jumlah nilai impor CIF dari barang/ bahan produksi sekitar Rp 20.2 trilyun”, papar P Dwi Jogyastara selaku Kepala Bidang Pelayanan dan Fasilitas Pabean dan Cukai II Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Tipe B Batam.

Dwi juga menjelaskan bahwa efektifnya fasilitas FTZ di pulau Batam dapat dilihat dari jumlah perusahaan yang berinvestasi di pulau Batam dengan tujuan mendapatkan fasilitas FTZ. Semakin banyak perusahaan yang berinvestasi di pulau Batam maka semakin efektif fasilitas FTZ di pulau Batam. Tak hanya dari jumlah perusahaan, efektifitas FTZ juga dilihat dari barang-barang konsumsi yang mendapatkan kuota dari BP Batam.

Pada dasarnya pembentukan FTZ di Pulau Batam adalah untuk menjadi kawasan industri yang diharapkan mampu menjadi pionir gerakan industrialisasi nasional, meningkatkan investasi dan meningkatkan produksi industri yang berorientasi ekspor.

Pernyataan tersebut disampaikan Dwi pada saat rapat Dialog Kinerja Organisasi (DKO) pada hari Rabu (09/09) bertempat di ruang rapat Sambu KPU Batam. Pelaksanaan DKO ini bertujuan untuk memantau perkembangan organisasi dan melaksanakan evaluasi atas kinerja organisasi dalam rangka memberikan percepatan pelayanan dan memperlancar lalu lintas logistik impor dan ekspor sehingga menjadi salah satu parameter untuk mewujudkan iklim usaha yang semakin kondusif.

Di Tengah Pandemi Covid-19, Penerimaan Cukai BC Batam Melampaui Target

Di Tengah Pandemi Covid-19, Penerimaan Cukai BC Batam Melampaui Target

Batam (15/09) – Penerimaan cukai Bea Cukai Batam sampai dengan bulan Agustus 2020 telah mencapai Rp 14.301 M atau 108.42% dari target tahunan yang telah ditetapkan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Akbar Harfianto selaku Kepala Bidang Perbendaharaan dan Keberatan saat melakukan kegiatan Dialog Kinerja Organiasasi terkait capaian kinerja Bea Cukai Batam (09/09).

“Walaupun di tengah pandemi Covid-19 ini, pemesanan terhadap pita cukai sebagai dampak atas ekspansi pasar yang dilakukan oleh perusahaan terus meningkat sehingga penerimaan dari segi cukai pun kian meningkat,” ujar Akbar. Untuk capaian seluruh penerimaan sampai dengan bulan Agustus 2020 sendiri mencapai Rp 206.54 M atau 89.75% dari target total penerimaan tahun 2020 sebesar Rp 230.12 M.

Bea Cukai Batam selaku penggerak roda pengawasan dan pelayanan tetap berkomitmen untuk terus meningkatkan realisasi dari target yang telah ditentukan walaupun di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.

Per Agustus 2020, Penerimaan Bea Masuk dan Bea Keluar Bea Cukai Batam Mencapai Rp192 miliar

Per Agustus 2020, Penerimaan Bea Masuk dan Bea Keluar Bea Cukai Batam Mencapai Rp192 miliar

Batam, (14/09/2020) – Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Batam mencatat penerimaan bea masuk per Agustus 2020 sebesar Rp181,55 miliar atau 88,03% dari target penerimaan tahun 2020 sebesar Rp206,24 miliar. Penerimaan bea keluar, per Agustus 2020 sebesar Rp10,689 miliar atau 100,02% dari target penerimaan tahun 2020 sebesar Rp10,686 miliar. Sehingga total penerimaan bea masuk dan bea keluar Bea Cukai Batam per Agustus 2020 sebesar Rp192 miliar.

“Kami laporkan untuk realisasi penerimaan bea masuk tahun 2020 per Agustus ini sebesar Rp181,55 miliar atau 88,03% dari target penerimaan tahun 2020 sebesar Rp206,24 miliar. Bea masuk ini naik Rp67,52 miliar atau 59,21% yoy,” kata Akbar Harfianto selaku Kepala Bidang Perbendaharaan dan Keberatan pada Dialog Kinerja Organisasi (09/09).

Lanjutnya ia sampaikan realisasi penerimaan bea masuk di bulan Agustus 2020 sebesar Rp20,99 miliar atau 10,18% dari target sebesar Rp15,32 miliar, jika dibandingkan dengan penerimaan bulan Agustus 2019 terjadi kenaikan sebesar Rp5,25 miliar atau 25,01% dari realisasi penerimaan Agustus 2019 sebesar Rp15,74 miliar.

Terdapat lima perusahan penyumbang bea masuk terbesar yaitu Tiki Jalur Nugraha Ekakurir, Duta Niaga Logistik, Indotirta Suaka, Sunindo Pratama dan Bertie Sukses Makmur.

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Nomor KEP-167/BC/2020 tentang Perubahan KEP-25/BC/2020 tentang Distribusi Target Penerimaan Bea Masuk, Bea Keluar, dan Cukai per Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tahun Anggaran 2020, KPU Bea dan Cukai Tipe B Batam ditetapkan Target BK Rp10,69 M.

“Terkait bea keluar, berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal terdapat perubahan penetapan target penerimaan bea keluar Bea Cukai Batam sebesar Rp10,686 miliar, sehingga kita bisa lihat realisasi penerimaan bea keluar sebesar 100,02%,” pungkas Akbar.

 

WhatsApp chat