BLE Jadi Titik Terang Penataan Logistik, Bea Cukai Batam Terus Gencarkan Pengembangan Sistem dan Sarana Pelabuhan

Batam (11/01) – Batam Logistic Ecosystem (BLE) yang dikembangkan oleh Bea Cukai Batam menjadi titik terang dalam penataan logistik di Batam. Hal tersebut diutarakan oleh Direktur Badan Usaha Pelabuhan (BUP) BP Batam, Nelson Idris dalam Rapat Rencana Pengembangan Pelabuhan Batu Ampar pada Jumat, (8/1).

Nelson Idris menjelaskan akan dilakukan rencana pengembangan Pelabuhan Batu Ampar menjadi Pelabuhan berstandar Internasional. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penataan logistik di Batam.

“Kita akan terus mengembangkan sarana dan prasarana Pelabuhan Batu Ampar. Sebagai bentuk dukungan dan kerja sama kita dengan Bea Cukai Batam dan instansi lainnya dalam proses pembentukan sistem BLE ini,” ujar Nelson.

Rencananya pengembangan pelabuhan nantinya akan dibagi menjadi empat tahap dan akan dimulai pada tahun 2020 sampai dengan tahun 2033. Pengembangan pelabuhan ini ditargetkan dapat meningkatkan kapasaitas teus container hingga 11.000.000 teus.

Pada rapat kali ini ada beberapa isu yang dijadikan topik pembahasan. Salah satunya yang disampaikan oleh Ketua Kamar Dagang dan Industri Batam (KADIN), Jadi Rajagukguk yaitu mengenai percepatan pelayanan proses bisnis, keamanan dan kenyamanan baik dari segi Ship to Ship (STS) maupun Float Storage Unit (FSU) di Pelabuhan Batu Ampar.

Layanan STS/FSU merupakan kolaborasi antara Bea Cukai Batam, BP Batam, Karantina, Imigrasi, dan KSOP Khusus Batam. Kepala Bidang Penerimaan dan Keberatan Bea Cukai Batam, Akbar menambahkan bahwa STS/FSU merupakan konsep bagian dari BLE. Saat ini Bea Cukai Batam sedang mengembangkan BLE untuk mengintegrasikan proses penataan logistik.

“BLE akan menjadi jawaban untuk efisiensi biaya logisik, penekanan biaya transportasi serta meningkatkan daya saing produk Indonesia di dunia internasional. Layanan STS/FSU sudah dapat digunakan sejak Agustus 2020, tidak perlu mengurus ke instansi masing-masing. Cukup satu kali proses ke satu instansi, sudah meng-cover proses bisnis ke instansi yang lain,” tambah Akbar.

Selain itu, guna meningkatkan efektvitas dan memotong biaya logistik yang terjadi di wilayah Free Trade Zone Batam, Bea Cukai Batam sedang mengembangkan Kawasan Pabean bertajuk TPS Apung yang berlokasi di tengah laut.

Pada rapat kali ini juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman antara BUP BP Batam dengan Direktur PT Raja Poros Maritim tentang Penyiapan Pengoperasian STS dan FSU di Wilayah Kerja BP Batam. Diharapkan dengan ditandatanginya Nota Kesepahaman ini dapat terjalin sinergi antara pihak-pihak yang terlibat untuk Indonesia yang semakin maju.