Batam Logistics Ecosystem: Logistik Tertata, Efisiensi Terjaga

Kalimat yang disampaikan Sun Tzu tersebut seolah menyiratkan bahwa logistik tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang peradaban manusia. Rencana logistik yang komprehensif dan responsif telah memainkan peran yang menentukan dalam kemenangan peperangan di masa lalu. Contoh nyata keberhasilan penataan logistik yang baik adalah invasi D-Day di Normandia, Prancis selama Perang Dunia II. Namun sebaliknya, kurangnya perencanaan logistik telah menyebabkan kekalahan yang menghancurkan seperti invasi Napoleon Bonaparte ke Rusia.

Asisten kepala staf untuk logistik NATO Laksamana Muda Henry Eccles pada tahun 1959 mendefinisikan logistik: “Logistik adalah jembatan antara ekonomi negara dan operasi taktis pasukan tempurnya sendiri.” Jembatan ini harus dibentangkan dan dipertahankan jika kekuatan akan didirikan dan diperlengkapi untuk konflik. Sama halnya dengan fungsi jembatan Barelang yang menghubungkan dan memperlancar arus logistikdi Pulau Batam. Lalu bagaimana ‘’jembatan’’ logistik, di Indonesia? sejauh mana peranan dan perkembangannya?

Latar belakang

Kinerja logistik Indonesia sampai saat ini belum begitu menggembirakan. Biaya logistik Indonesia tertinggi diASEAN sebesar 23.5% dari PDB atau setara dengan Rp3.560 triliun. Padahal biaya logistik, biaya transportasi merupakan complement terbesar dan transportasi yang tidak reliable membuat biaya inventori akan semakin meningkat.

Instruksi Presiden No. 5 tahun 2020 merupakan landasan hukum dan sekaligus upaya pemerintah dalam membangun kokohnya “jembatan” logistik nasional. Diharapkan upaya tersebut dapat memperbaiki iklim investasi dan meningkatkan daya saing perekonomian nasional. Dalam Instruksi Presiden tersebut, Menteri Keuangan c.q Bea dan Cukai menjadi prime mover untuk menata logistik nasional.

Dalam pelaksanaannya penataan ekosistem logistik nasional dilakukan melalui: pertama, simplifikasi proses bisnis layanan pemerintah di bidang logistik yang berbasis teknologi informasi untuk menghilangkan repitisi dan duplikasi; kedua, kolaborasi sistem-sistem logistik baik internasional maupun domestik antara pelaku kegiatan logistik di sektor pemerintah dan swasta, dan; ketiga, kemudahan transaksi pembayaran penerimaan negara dan fasilitasi pembayaran antar pelaku usaha terkait proses logistik.

Perbaikan tersebut harus segera dilakukan mengingat berdasarkan data Bank Dunia, untuk Ease on Doing Business (EoDB) tahun 2020, Indonesia berada di peringkat ke-73 dari 190 negara dengan skor kemudahan berusaha 69,6. Skor tersebut tercatat meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai 68,2. Peringkat EoDB Indonesia juga meningkat drastis dari ke-106 pada 2016 menjadi ke-72 pada EoDB 2018. Sejak itu, peringkat EoDB Indonesia turun ke posisi 73 pada EoDB 2019 dan stagnan di peringkat 73 pada EoDB 2020. Peringkat tersebut didapat dari hasil pengukuran waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan ekspor dan impor. Salah satu sebabnya adalah duplikasi dan repetisi dokumen, asymmetric information terkait supply dan demand, infrastruktur pendukung logistik yang tidak efisien dan ketiadaan platform logistik dari hulu ke hilir menyebabkan inefisiensi logistik di Indonesia. Solusi atas ketiadaan platform tersebut adalah dengan hadirnya di bulan September 2020 dalam bentuk National Logistics Ecosystem (NLE).

NLE adalah suatu ekosistem logistik yang menyelaraskan arus lalu lintas barang dan dokumen internasional sejak kedatangan sarana pengangkut hingga barang tiba di gudang.

Keberadaan NLE yang didukung secara penuh oleh sistim INSW diharapkan menjadi jembatan dalam penataan ekosistem logistik nasional melalui beberapa peran penting di antaranya :

  1. Simplifikasi proses bisnis layanan pemerintah dibidang logistik

    Melalui mekanisme Single Submission (SSm) pada Sistem INSW, Ekosistem Logistik Nasional menghadirkan “satu wajah Pemerintah” dalam memberikan layanan di bidang logistik termasuk kegiatan ekspor, impor, dan domestik yang dikelola oleh berbagai kementerian/lembaga. Adanya SSm ini dapat meningkatkan efisiensi proses dan waktu karena adanya integrasi dan kolaborasi antar sistem kementerian/lembaga. SSm tersebut terdiri dari SSm joint inspection pabean dan karantina, SSm Pengangkut, SSm Perizinan dan Manajemen Risiko
  1. Kolaborasi sistim layanan logistik baik domestik maupun internasional

    INSW memaksimalkan fungsi integrasi logistik berupa kolaborasi Shipping platform melalui Delivery Order/DO online dan kolaborasi platform pelabuhan melalui Surat Penyerahan Petikemas (SP2/TILA) online
Batam Logistics Ecosystem (BLE)

Batam Logistics Ecosystem (BLE) menjadi pilot project penataan logistik di Indonesia. Platform BLE ini merupakan pendekatan kolaborasi Free Trade Zone menggunakan metode Cross – Channel Setidaknya ada 5 peran BLE dalam menata logistik di Kota Batam. Pertama; mengintegrasikan dan mengkolaborasikan sistem pada institusi Kepabeanan, BP Batam, Imigrasi, Karantina dan Pelabuhan pada layanan Ship to Ship Floating Storage Unit (STS FSU) pada fase awal. Kedua; mengintegrasikan dan kolaborasi sistem perizinan lainnya pada kementerian dan lembaga yang lebih luas di Pulau Batam. Ketiga; menciptakan kolaborasi sistem antara pemerintah dengan pelaku bisnis (G2B) dan kolaborasi antar pelaku dunia usaha (B2B). Keempat; penataan pelabuhan di Batam melalui program Green Port. Kelima; Pembangunan konektivitas dengan bandara Hang Nadim.

Lalu seberapa besar efisiensi dari penerapan National Logistics Ecosystem dan Batam Logistics Ecosystem ini? perhitungan efisiensi pada tahap pilot project menunjukan bahwa efisiensi kegiatan DO & SP2 Online berupa penebusan Delivery Order (DO) dan Persetujuan Pengeluaran Petikemas (SP2) menghasilkan tingkat efisiensi biaya sebesar Rp 402 M dan efisiensi waktu 91%. Efisiensi kegiatan E-trucking pemesanan truk menunjukan tingkat efisiensi biaya sebesar Rp 975 M dan efisiensi waktu 50 %. Kegiatan inspection dalam hal ini penyampaian dokumen clearance dan pemeriksaan barang Bea Cukai–Karantina menunjukan tingkat efisiensi biaya sebesar Rp 85 M dan efisiensi waktu 35-56 %. Kegiatan Pengangkut berupa keberangkatan/kedatangan kapal dan bongkar/muat barang menghasilkan tingkat efisiensi biaya sebesar Rp 60 M dan efisiensi waktu 74 %.

Efisiensi BLE berasal dari dua kegiatan. Pertama; Layanan STS/FTU berupa kegiatan perizinan Ship to Ship (STS) Floating Storage Unit (FSU). Kegiatan ini semula membutuhkan waktu pengurusan 3 hari, namun melalui BLE waktu pengurusan bisa dikurangi menjadi 1 hari. Pengurangan ini disebabkan adanya single submission yang menungkinkan pengajuan izin cukup dilakukan satu kali sehingga duplikasi kegiatan bisa ditekan, sehingga diperoleh efisiensi waktu sebesar 70%.

Kedua; Kegiatan perizinan usaha & konsumsi menunjukan efisiensi sebesar 94%. Adanya integrasi sistem perizinan dan potong kuota antara CEISA FTZ (Bea Cukai) dan IBOOS (BP Batam) menyebabkan pengurangan waktu yang sangat signifikan. Sebelum BLE diterapkan diperlukan waktu validasi perizinan selama 1 hari kerja. Adanya BLE memberi dampak signifikan berupa pengurangan waktu penyelesaian dari semula 1 hari menjadi hanya 30 menit atau tingkat efisiensi 94 %.

Rencana pengembangan BLE selanjutnya adalah berfokus pada sistem teknologi informasi, manajemen kinerja, penguatan keamanan, pengembangan Application Programming Interface (API), dan juga memperkaya fitur dan layanan. Hal ini merupakan salah satu pondasi yang harus segera dikuatkan di dalam BLE.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah perlu adanya dukungan/promosi dari sektor pemerintahan agar agensi kapal, perusahaan trucking, customer dapat masuk dan bergabung dengan platform yang sudah ada, terutama untuk meningkatkan kepercayaan customer kepada platform.

Salah satu penulis terkenal dalam seni perang Napoleon Bonaparte yang merupakan seorang jenderal tentara Prancis dan tentara Rusia mengatakan bahwa “Logistics comprises the means and arrangements which work out the plans of strategy and tactics. Strategy decides where to act; logistics brings the troops to this point”. Perencanaan logistik yang komprehensif dan responsif harus dibarengi dengan eksekusi yang integratif dan terkoordinir dengan baik sehingga “jembatan” kita dalam menata logistik bisa mengarah pada pencapaian efisiensi demi Indonesia yang lebih baik. Semoga!(*)

Penulis: Undani – Kepala Seksi Layanan Informasi Bea Cukai Batam