Batam Logistic Ecosystem (BLE) Jadi Percontohan Nasional, Kepala Bea Cukai Batam: Kami Dukung Penuh!

Batam, (11/09/2020). Penasihat Khusus Menteri Koordinator Bidang Pertahanan dan Keamanan Maritim Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio dalam sesi doorstop interview menyampaikan bahwa Batam melalui Batam Logistic Ecosystem (BLE) akan menjadi percontohan penataan logistik di Indonesia yang berbasis green and smart port.

“Batam ini sebagai percontohan nasional dalam hal penataan logistik, dimulai dari pengembangan pelabuhan yang berbasis green and smart port,” ujar Marsetio kepada Tim Humas Bea Cukai Batam sesaat setelah pelaksanaan Rapat Koordinasi Monitoring Implementasi Batam Logistic Ecosystem (BLE) di Gedung Utama BP Batam.

Marsetio menambahkan, penataan logistik dan mewujudkan green and smart port dibutuhkan Information Technology (IT) yang memadai, dan menurutnya Direktorat Jenderal Bea dan Cukai patut diapresiasi karena dapat menginisiasi adanya Batam Logistic Ecosystem (BLE) yang juga bagian dari National Logistic Ecosystem (NLE).

“Kami dari Kemenko Manves sangat terbantu dan berterima kasih kepada Dirjen Bea Cukai, Bapak Agus (Direktur Informasi Kepabeanan dan Cukai DJBC), Bapak Brata (Kepala Bea Cukai Batam) dan jajarannya yang sangat responsif dan menguasai IT, sehingga bisa mengembangkan aplikasi untuk membenahi permasalahan logistik di Batam ini,” kata Marsetio.

Senada dengan Marsetio, Staf Ahli Bidang Manajemen Konektivitas Kemenko Maritim dan Investasi Sahat Manaor Panggabean menyampaikan bahwa Batam menjadi percontohan nasional karena statusnya sebagai Kawasan Bebas atau Free Trade Zone (FTZ). Batam memiliki kompleksitas dalam hal arus lalu lintas barang, sehingga menurutnya apabila Batam dapat dibenahi maka akan mudah menerapkan BLE ini di daerah Indonesia lainnya.

“Melalui Inpres 5 Tahun 2020 tentang Penataan Logistik Nasional, Batam ini menarik menjadi percontohan karena statusnya sebagai FTZ, (apabila) Batam ini rapi, maka mudah untuk (menjadi) percontohan daerah lain, secara nasional akan rapih nanti Indonesia ini. Daya saing kita akan meningkat, Logistic Performance Index menjadi baik, Logistic Cost dapat ditekan, sehingga kita akan cepat maju dan sejajar dengan negara lain bahkan bisa lebih hebat, inilah harapan kita ke depan,” ujar Sahat.

Menanggapi pernyataan Marsetio dan Sahat, Direktur Informasi Kepabeanan dan Cukai DJBC Agus Sudarmadi menyampaikan bahwa BLE yang juga bagian dari NLE adalah sebuah pekerjaan besar bangsa Indonesia untuk membenahi logistik di Indonesia. Dibutuhkan kolaborasi antar instansi terkait dengan memanfaatkan (Information Communication Collaboration Technology) sebagai pemandunya.

Di akhir sesi doorstop interview, Kepala Kantor Bea dan Cukai Batam menyampaikan bahwa Bea Cukai Batam siap mendukung penuh inisiasi pemerintah pusat dan berkolaborasi dengan instansi terkait di Batam.

“Saya sebagai Kepala Bea Cukai Batam, mewakili DJBC di Batam akan mendukung sepenuhnya apa yang menjadi inisiasi nasional, seperti yang disampaikan Prof. Marsetio, melalui ICCT (BLE) ini kita harap dapat mengurangi high cost tadi, kita sudah inisiasi dan kolaborasi dengan instansi terkait yaitu BP Batam dan KSOP, juga dengan Dit. IKC (Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai_pen) DJBC, dan diharapkan dapat meningkatkan investasi di Batam,” ujar Susila Brata menutup sesi doorstop interview.